Kawunganten (cilacap-online), Untuk membangun sarana infrastruktur jalan masyarakat di pedesaan, masyakarat Cibogo kelurahan Kalijeruk yang terletak di kecamatan Kawunganten kabupaten Cilacap mendapat dana PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) sebesar Rp. 148.999.000 untuk membangun jalan desa yang melintasi perkampungan sepanjang ± 1,55 km yang memang menurut pemantauan (cilacap online) memang di sana sini terlihat banyak berlubang dan banyak aspal yang mengelupas.
Sementara pembangunannya sendiri akan di kebut sebelum musim penghujan , seperti diketahui pembangunan jalan itu sendiri banyak yang melintasi persawahan. Menurut kepala desa Kalijeruk Bapak Rasidin selain mengandalkan dari dana PNPM pembangunan jalan juga mangandalkan dari dana swadaya masyarakat di harapkan dari pembagunan ini dapat menunjang sektor perekonomian desa
Kemerdekaan adalah kata yang kita sepakati bersama, mengandung sebuah makna kebebasan, kemandirian serta tidak terjajah oileh apapun yang membebani pundak kita. Indonesia sudah melewati kemerdekaanya 63 tahun lamanya, akan tetapi apakah bangsa Indonesia sudah merasakan makna kemerdekaan dengan sebenar-benarnya.
Allah suka orang yang memuji-Nya. Allah berjanji, barang siapa yang istikamah dan ikhlas memuji-Nya, akan dibukakan kemudahan semua masalahnya. Apa saja manfaat atau hikmah zikir Hamdalah ?
Demorasi tak bisa berdiri sendiri. Demokrasi butuh penopang agar tidak melenceng menjadi " democrazy ". Suasana kondusif adalah salah satu penopang itu. Seruan kampanye damai pun diembuskan serentak. Seruan itu dicetuskan bersama parpol konstentan Pemilu 2009 secara serentak di berbagai wilayah nusantara. Seruan itu dibungkus dalam tema Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2009. Semangat menegakkan suasana damai menjadi sangat penting mengingat masa kampanye terbilang panjang, yakni sembilan bulan. lebih-lebih, jumlah peserta pemilu sangat banyak, yakni 34 parpol.
Selamat datang di web www.cilacap-online.com, silahkan daftarkan diri anda sebagai Anggota situs ini untuk mendapatkan fasilitas lebih dari www.cilacap-online.com Bagi anda yang telah berhasil menjadi anggota silahkan Log In atau anda akan mendaftar pada situs www.cilacap-online.com
Ketika kehampaan menyapa hati, ketika kesunyian telah merasuk di relung kehidupan dan ketika malam menjadi teman setia, maka ketika itu jua seorang manusia mulai merasa bahwa hidup ini begitu berarti akan adanya seseorang di sisinya yang dapat menemani menjalani hari demi hari yang terasa sangat panjang ini.
Ketika kehampaan menyapa hati, kita akan lebih sering berbohong dalam menjalani hidup. Kita tertawa untuk menutupi tangis, kita tersenyum untuk menyelimuti pedih, dan kita menemui malam karena siang enggan menyapa bersama senyuman.
Ketika kehampaan menyapa hati, mereka akan berkata bahwa mereka dapat hidup tanpa orang lain di sisinya. Mereka menyangka bahwa kemandirian dapat dicapai dengan kesendirian. Padahal tidak! Itu hanya pembelaan atas kehampaan mereka. Itu hanya retorika belaka, sedangkan hati mereka mengingkari dengan seingkar-ingkarnya. Mereka menutup hati bukan karena mereka ingin, tapi karena keadaan yang memaksa. Mereka tampak kuat di permukaan, namun ketika malam tiba hati mereka meneteskan air mata hingga pagi menjelang.
Ketika kehampaan menyapa hati, mereka berkata lantang kepada dunia bahwa hidup ini adalah pilihan. Tidak ada penyesalan yang akan menyusul pilihannya. Penyesalan adalah bahasa orang-orang yang lemah. Padahal mereka lemah bahkan lebih lemah dari orang yang lemah. Padahal penyesalan menyapa tiap hari yang mereka lalui. Tapi mereka menutup mata dan menyumbat telinga mereka dengan kedua jari telunjuknya. Mereka berusaha keras mengusir kesalahan jauh sejauh-jauhnya. Akan tetapi semakin keras mereka berusaha, semakin sia-sia pula usaha itu. Karena ketika mereka melemparkan pandangan jauh ke depan, kesalahan menepuk pundak mereka dari belakang.
Ketika kehampaan menyapa hati, mereka mulai menjalani hidup tanpa semangat. Cerah mentari tidak menyadarkan mereka bahwa hidup ini indah. Yang ada dalam pandangannya adalah awan yang menyelimuti mentari. Bahwa tiap titik hujan mewakili tiap tetes air mata mereka. Bahwa mendung adalah takdir yang harus mereka terima tanpa penolakan. Dan bahwa kegelapan adalah teman hidup mereka untuk selamanya. Mereka tidak sadar bahwa di balik awan ada mentari yang akan selalu menyinari dunia ini. Mereka menutup mata dari keindahan bunga-bunga yang merekah di halaman rumah. Mereka enggan, mereka takut, dan mereka khawatir kalau hidup ini bukan untuk dinikmati. Dan kalau ternyata kenikmatan hidup bukan untuk mereka.