Ditulis oleh waryo Sabtu, 31 Januari 2009 14:24

Sen. Obama and I have had and argued our differences, and he has prevailed.... These are difficult times for our country. And I pledge to him tonight to do all in my power to help him lead us through the many challenges we face. (John McCain)
SAYA sengaja menempatkan kalimat John McCain di atas mengawali kolom ini. Cuplikan di atas menandai pengakuan kekalahan McCain menghadapi Barack Obama dalam pertarungan pilpres yang kemudian mencatatkan sejarah baru: Amerika kali pertama dipimpin presiden berkulit hitam. Ada beberapa poin penting dari pernyataan McCain tadi. Pertama, mengakui lawan sebagai pemenang karena pihak lain lebih baik. Kedua, tekad sang pecundang (McCain) untuk berbalik membantu pemenang (Obama) dengan segala power yang ada. Ketiga, tak ada yang namanya musuh abadi, kecuali kepentingan, lebih-lebih jika diarahkan untuk kepentingan nasional.
Ketiga poin di atas selayaknya menjadi pembelajaran politik bagi Indonesia. Indonesia era reformasi terbiasa dengan kontes terbuka dan langsung memilih pemimpin. Mulai dari level terbawah memilih kepala desa, wali kota, bupati, gubernur sampai yang tertinggi memilih presiden. Ada ribuan pilkada, di luar dari kontes umum pilegs dan pilpres. Tanpa modal ketahanan budaya dan demokrasi, sembari meneguhkan nilai-nilai dan etika, Indonesia bisa porak-poranda dilanda amuk di mana-mana.
Bayangkan, jika setiap kekalahan diiringi dengan amuk dan huru-hara dari yang kalah. Percik permusuhan begitu mudah meletup dan berujung kerusuhan massal. Kerugian yang timbul pasti beragam, dari korban nyawa sampai material. Pembangunan yang sudah susah-payah dan lama diwujudkan mendadak mudah hancur berantakan hanya lewat rusuh beberapa jam. Hanya gara-gara kepicikan beberapa gelintir elite atau mereka yang tak siap mental terhadap sesuatu yang terjadi di luar skenarionya.
Kembali ke poin pertama di atas, itulah wujud ksatria dalam perspektif apa pun. Kekalahan itu adalah hal biasa. Kendati sudah biasa terjadi, tetapi masih banyak orang dan pihak yang tak siap menerima kekalahan. Mereka berani menolak takdir, sesuatu yang tentu sudah diaturNYA. Menolak menjunjung etika dan aturan, sesuatu yang mestinya dipahami sebagai aturan-main.
Poin kedua juga menegaskan karakter ksatria. Pihak yang kalah segera naik panggung menyatakan dirinya kalah dalam pertarungan pemilihan. Bukan hanya itu, sang Pecundang pun segera meminta para pendukungnya untuk bersama-sama dengannya membantu sang Pemenang. Ada banyak program yang harus diperjuangkan dan diaktualisasikan. Kepentingan masyarakat luas berada di atas kepentingan individu atau golongan. Di atas pertarungan dan segala pernak-pernik perebutan kekuasaan, rakyatlah yang kuasa. Kepentingan orang banyak yang harus diutamakan.
Karenanya, jika ada pemimpin yang justru memprovokasi pendukungnya untuk onar dan rusuh dan tolak kekalahan, sesungguhnya ia bukan pemimpin melainkan pengkhianat masyarakat. Layak dihujat sikapnya.
Begitu juga poin ketiga, tetap tonjolkan karakteristik ksatria. Obsesif pada kemenangan semata namun mengesampingkan realitas, sama dengan mengkhianati kepentingan masyarakat luas. Jika ketika masa kampanye, kandidat rajin bicara soal masyarakat, rakyat dan publik, seyogyanya juga demikian ketika pascapemilihan. Mengenai siapa yang memenangi pemilihan dan apa pun yang lebih memikat mayoritas pemilih, semua harus tunduk.
McCain telah mencontohkan sikap ksatria dalam berpolitik. Bagi Indonesia, pelajaran itu tak melulu soal pemimpin puncak belaka. Melainkan dapat dipraktikkan di Tanah Air bagi para kandidat di semua level politik dan pemerintahan, pilkades, pilbup, pilgub, hingga pilpres.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |















Comments