Ditulis oleh Fadli Jumat, 27 Februari 2009 16:28
Namanya Kartowinangun, Laki-laki ini berumur 53 tahun. Dia adalah salah satu pengrajin rumbia di desa Ciklapa kecamatan kedungreja kabupaten Cilacap. Bersama istrinya sejak tahun 1985 ia menggeluti pekerjaan itu sebagai prnghasilan utama keluarga.
Bapak dari 9 anak ini menceritakan bahwa sebelum tahun 1985 ia sudah pernah menggeluti bisnis rumbia ini, tapi karena tuntutan kebutuhan,
ia mencoba beralih ke beberapa pekerjaan seperti nelayan dan pekerja bangunan. Tapi lama kelamaan ia merasa bahwa jalan hidupnya tetap ada di bisnis atap rumbia. Maka di tahun 1985 kembali ia menggeluti bisnis ini sampai sekarang."Penghasilannya tidak seberapa mas, kita membeli daun rumbia dari penduduk 1 gulungnya Rp.30.000,-. Kemudian dari satu gulung tersebut paling-paling hanya memperoleh 30 lembar anyaman. 1 anyaman kita jual seharga Rp. 600,- sampai Rp.900,- ke bandar. Belum lagi biaya bambu dan ongkos menganyam warga yang ikut membantu menganyam. Jadi hanya bisa pas-pasan aja mas", ungkap bapak karto. "Tapi kerjaan yang lain rasanya lebih capek mas, bukan bidangnya", lanjut kartowinangun. Kartowianangun memang terbiasa memberikan pekerjaan anyaman kepada tetangga-tetangganya. Ia hanya memotong ukuran daun, kemudian istri dan anaknya serta ibu-ibu sekitar rumahnya yang menganyam. Ongkos anyam tergantung dari harga per lembar rumbia. Jika ukuran lebar 1 meter ia jual ke bandar Rp.900,-/lbr, maka ongkosnya adalah Rp.90,-/lbr. jika ukuran lebar 80 cm maka ongkosnya menjadi Rp.60,-/lbr. Jadi hitunga-nya adalah 10% dari harga jual ke bandar.
Menurut karto, Kebanyakan pembelinya adalah pengrajin batu bata. mereka menggunakan daun rumbia untuk atap gubuk pembakaran batu bata. Beberapa pembeli dari Jogja bahkan membeli atap daun ini untuk di sewakan di ajang pesta-pesta perkawinan.
Desa Ciklapa memang termasuk desa yang kaya akan daun rumbia, hampir disepanjang anak sungai Ciberem yang alirannya masuk ke desa tumbuh daun rumbia atau yang disini lebih terkenal dengan nama kajang. Ada banyak pengrajin rumbia di desa Ciklapa. Kebanyakan aku temui di sepanjang pinggiran sungai Ciberem. kebanyakan pengrajinnya adalah orangtua. Salah satunya adalah bapak kartowinangun.
Kartowinangun mungkin juga sadar bahwa lambat laun kebutuhan orang akan atap daun rumbia akan semakin kecil. Jikapun ada mungkin harganya sudah tak sesuai lagi dengan kebutuhan sehari-hari. Dunia modern lebih mengenal bahan-bahan atap yang berbau beton dan seng. Tapi lagi-lagi keterbatasan kondisi dan pengetahuan membuat ia tetap menjalani bisnis alam yang telah diturunkan keluarganya. Atau mungkin juga pemanfaatan alam inilah yang menjaga bumi tetap asli dan tak tercemar. Atap rumbia lebih mudah terurai ketika ia telah menjadi sampah.
Fadli :smartfad.multiply.com
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |















Comments