Ditulis oleh Akhad Fadli Senin, 09 Maret 2009 23:47
Panen Raya padi akhirnya kembali datang menyibukkan petani-petani di dusun Cibriluk desa Cinangsi. Pada jalan-jalan hari minggu kemaren (01/03/09) aktivitas panen menjadi pembuka hidangan perjalananku yang santai. Perjalanan melihat-lihat aktivitas petani yang sedang panen hampir selalu aku lakukan tiap tahun. Temen-temen yang melihat kebiasaanku ini selalu saja berkomentar "kayak orang kota aja, jalan-jalan kesawah, photo san potret sini, tanya sana tanya sini", ucapnya. Tapi bagiku mengamati kehidupan orang desa dengan segala aktivitasnya tetaplah merupakan keunikan dan keindahan. Aku juga sadar bahwa aku tetaplah bagian dari mereka, orang-orang yang memilih tinggal di desa. Tapi merenungi kesederhanaan kehidupan di desa adalah sebuah rekreasi tersendiri bagiku
Panen raya pertama memang sedang berlangsung di dusun ini. Aku sempat memarkirkan kamera handphone-ku ke satu kelompok petani yang sedang "ngarit" padi, 2 orang laki-laki dan 3 orang ibu-ibu. Mereka adalah bapak Pujo, bapak Sono, Ibu Suratmi, Ibu Tum dan ibu Yayah. Ibu Tum merupakan Istri Pujo, keduanya adalah pemilik sawah yang sedang di panen. Dan selebihnya adalah buruh tani yang mendapat giliran sistem liuran. Dalam sistem liuran status mereka adalah buruh dengan bayaran perhari Rp. 15.000,-/hari. Dan ketika bapak Sono yang panen, status Pujo pun berganti menjadi buruh dengan bayaran yang sama.Di desa aktivitas perempuan yang ikut bekerja di sawah adalah sebuah pemandangan yang lazim. Tidak ada perdebatan Gender yang memangkas batas aktivitas masing-masing. Di saat panen, secara sadar mereka berbagi peran. Perempuan memegang peran yang agak ringan yakni gepyok dan ngarit. sedangkan laki laki di tambah mengangkut hasil panen.
Perjalanan selanjutnya ku parkir motorku di bawah bukit kuburan dusun. Di sekitarnya berdiri rumah-rumah dengan tampah yag berisi tepung tapioka disisi-sisi nya. Gubuk itu memang bukan sekedar gubuk biasa. Ia adalah pabrik-pabrik tepung tapioka. Tepung yang terbuat dari endapan saripati singkong. Didusun Cibriluk ini tadinya ada 6 pabrik tepung tapioka, tapi sekarang tersisa 5 pabrik. Pemilik pabrik kebanyakan adalah masyarakat lokal. Dari 5 pabrik hanya , tapi sekarang tersisa 5 pabrik. Pemilik pabrik kebanyakan adalah masyarakat lokal. Dari 5 pabrik hanya ada 1 buah pabrik yang pemiliknya adalah orang Cirebon. Itu pun karena proses penjualan yang dilakukan oleh pemilik lokal. Pabrik yang tadinya dimiliki oleh wardoyo berpindah tangan ke tangan bapak Iwan yang membelinya. Yang lain adalah milik Ibu Rosinah, Ibu Amin, Kasiro dan Sirojudin.
Pabrik yang dimaksud memang bukan pabrik-pabrik dengan kapasitas produksi yang besar. Mereka hanya berproduksi dengan rat-rata perhari 5-15 kwintal tepung tapioka. Tergantung dari ketersediaan bahan. Karena pada musim hujan rata-rata petani belum panen singkong. Dan menurut Iwan dari tahun ke tahun bahan mengalami kecenderungan berkurang. Perkwintal tepung tapioka keuntungannya Rp.100.000. Hasil tersebut belum di potong operasional mesin dan upah pekerja.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |















Comments