Ditulis oleh Akhmad Fadli Kamis, 12 Maret 2009 09:52
CILACAP. Panen Raya padi akhirnya tiba. Petani-petani Dusun Cibriluk, Desa Cinangsi, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap terlihat sibuk. Laporan perjalanan kali ini (01/03/09) saya akan bercerita tentang aktivitas panen raya di daerah ini.

Melihat aktivitas petani saat panen hampir selalu kulakukan setiap tahun. Melihat kebiasaanku ini. tak sedikit teman-temanku yang berkomentar, "ah, kayak orang kota saja.
Jalan-jalan kok ke sawah. Jepret sana sana jepret sini. Tanya sana tanya sini," Bagiku, kehidupan orang desa merupakan keunikan dan keindahan. Aku bagian dari mereka, orang-orang yang memilih tinggal di desa. Saat aku merenungi kesederhanaan kehidupan di desa menjadi sebuah rekreasi tersendiri.

Panen raya pertama tahun ini sedang berlangsung di dusun ini. Aku sempat memarkirkan kamera telepon genggamku ke satu kelompok petani yang sedang "ngarit" padi, 2 orang laki-laki, dan 3 orang ibu-ibu. Mereka adalah Pujo, Sono, Suratmi, Tum, dan Yayah. Tum adalah istri Pujo, keduanya adalah pemilik sawah yang sedang di panen. Selebihnya adalah buruh tani yang mendapat giliran sistem liuran. Dalam sistem liuran status mereka adalah buruh dengan bayaran per hari, ayitu Rp 15.000,-/hari. Ketika Sono yang panen, status Pujo pun berganti menjadi buruh dengan bayaran yang sama.
Di desa aktivitas perempuan yang ikut bekerja di sawah adalah sebuah pemandangan yang lazim. Tidak ada perdebatan jender yang memangkas batas aktivitas masing-masing. Di saat panen, secara sadar mereka berbagi peran. Perempuan memegang peran yang agak ringan, yakni gepyok dan ngarit. Sedangkan laki laki ditambah mengangkut hasil panen.
Perjalanan selanjutnya ku parkir motorku di bawah bukit kuburan dusun. Di sekitarnya berdiri rumah-rumah dengan tampah yang berisi tepung tapioka di sisi-sisinya. Gubuk itu memang bukan sekadar gubuk biasa. Ia adalah pabrik-pabrik tepung tapioka. Tepung yang terbuat dari endapan saripati singkong atau ketela pohon. Di Dusun Cibriluk ini tadinya ada 6 pabrik tepung tapioka, tapi sekarang hanya tersisa 5 pabrik. Pemilik pabrik kebanyakan adalah masyarakat setempat. Dari 5 pabrik hanya ada 1 buah pabrik yang pemiliknya adalah orang luar daerah, yaitu Cirebon. Itu pun karena proses penjualan yang dilakukan oleh pemilik lokal. Pabrik yang tadinya dimiliki oleh Wardoyo berpindah tangan ke tangan Iwan yang membelinya. Yang lain adalah milik Rosinah, Amin, Kasiro, dan Sirojudin.

Pabrik tapioka di Cibriluk memang bukanlah pabrik-pabrik dengan kapasitas produksi yang besar. Mereka hanya berproduksi dengan rata-rata perhari 5-15 kwintal tepung tapioka, tergantung dari ketersediaan bahan. Misalnya, pada musim hujan rata-rata petani belum panen singkong. Menurut Iwan dari tahun ke tahun bahan mengalami kecenderungan berkurang. Perkwintal tepung tapioka keuntungannya Rp 100.000,- Hasil tersebut belum dipotong operasional mesin dan upah pekerja.
Di samping dua aktivitas yang aku abadikan, aku juga mengambil beberapa gambar buah Cumplung (Maja) dan pohon Gandaria yang melimpah di kuburan Dusun Cibriluk.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |














Comments
I am from Republic and now teach English, tell me right I wrote the following sentence: "Involve all opening, lines and preservation with great and middle system to suffer xml."
Thanks for the help 8-), Led stock ticker display.