Ditulis oleh waryo Sabtu, 31 Januari 2009 14:33

".... kepemimpinan itu penting. Orang mengatakan sangat penting, kunci. Tapi ingat, negara itu berjalan. Negara itu dikelola oleh banyak faktor, sistem, nilai dan kultur, serta tingkat kompleksitas permasalahan. Ada faktor-faktor eksternal yang begitu memengaruhi keadaan dalam negeri itu," ujar Presiden SBY.
Ia menyebut, sepuluh tahun lalu, krisis keuangan Asia melanda, menambah buruk kondisi dalam negeri kita yang kala itu memang sudah susah. Ada krisis kepemimpinan, ada reformasi berskala besar, dan sebagainya. Jadi, banyak faktor yang memengaruhi. Kini, ada contoh di depan mata: Thailand, India, dan Amerika. Kita mendapatkan di sana krisis kepemimpinan, krisis demokrasi, dan krisis ekonomi. Jadi, memang kompleks adanya.
Sebagai kunci, pemimpin dan kepemimpinan, berhubung-kait dengan berbagai faktor yang kompleks itu. Namun, ketika sistem, nilai, dan budaya penyelenggaraan negara telah terbangun kukuh, maka kepemimpinan menguatkan seluruh sendinya.
Sejarah perjalanan bangsa ini menunjukkan, kebergantungan terhadap pemimpin dan kepemimpinan telah menyeret kita kepada fatamorgana. Karena itulah benar keterpaduan antara kepemimpinan dengan sistem, nilai, dan budaya tata kelola negara dan pemerintah, menjadi tiang sangga bangsa yang tegak berpijak di atas fundamental rakyat.
Dalam konteks itulah, saat mata dan telinga rakyat dikunjungi oleh aneka iklan politik, yang menawarkan deskripsi serba instan tentang pemimpin dan kepemimpinan, kita temukan realitas pentingnya sistem. Sejak dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, empat tahun lalu, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla berhasil mengembalikan bangsa ini pada track yang benar.
Sistem yang dibangun pasangan pemimpin nasional ini telah memberi koridor yang sangat luas dan terbuka untuk berlangsungnya reformasi dan demokrasi yang beradab. Setidaknya, kepemimpinan SBY-JK telah merentangkan triple track. Yakni: Track untuk meningkatan pertumbuhan dengan mengutamakan ekspor dan investasi; Track untuk menggerakkan sektor riil guna menciptakan lapangan kerja; dan Track untuk merevitalisasi pertanian, kehutanan, kelautan dan ekonomi perdesaan. Kesemua track itu berujung pada upaya kolektif bangsa mengurangi kemiskinan.
Setelah mengalami fase centang perenang sejak 1999, saat kita secara sengaja mengubah reformasi menjadi deformasi, baru pada era kepemimpinan SBY - JK inilah, reformasi berlangsung sesuai dengan track-nya yang benar. Yaitu jalan untuk mencapai tata kehidupan rakyat, masyarakat, negara, dan bangsa yang sesuai dengan tujuan kemerdekaan bangsa. Paling tidak, kepemimpinan SBY-JK telah menjadi kunci bagi bangsa ini membuka oportunitas untuk menjawab tantangan-tantangan global secara visioner ke masa depan.
Keberhasilan menciptakan kondisi dan track untuk hidup mandiri, dinamis, dan sejahtera, ini merupakan realitas obyektif. Hanya mereka yang berakal sehat dan berpandangan visioner dapat melihat dan merasakan hal ini.
Kecerdasan, akal sehat, dan kearifan akan memandu kita memahami realitas dengan baik sangka (husnudzan). Kepandiran, subyektivitas, dan keterjajahan ambisi akan menjerumuskan kita mengabaikan realitas, dan tenggelam dalam jebakan fantasi buruk sangka. Pernyataan ini, juga kunci dalam memandang masa depan.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |















Comments